Taufik Hidayat, The Hero...

Tau dong yaa, Taufik Hidayat? Atlet yang satu ini memang jagoan banget deh! Nggak cuma kepiawannya di lapangan hijau, tapi wajahnya juga sering menghiasi layar kaca kita. Yuk, kita intip biografi dari ayah Natarina Alika Hidayat ini!

Nama : Taufik Hidayat
Tempat / Tanggal Lahir : Bandung, 10 Agustus 1981
Tinggi Badan : 176 cm
Berat Badan : 64 kg

Prestasi :
1998: Juara Brunei Open 1999: Juara Indonesia Open, Juara SEA Games 2000: Juara Indonesia Open, Juara Malaysia Open, Juara Kejuaraan Asia 2001: Juara Singapore Open 2002: Juara Indonesia Open, Juara Taiwan Open, Juara Asian Games 2003: Juara Indonesia Open 2004: Juara Indonesia Open, Juara Kejuaraan Asia, Juara Olimpiade 2005: Juara Singapore Open, Juara Kejuaraan Dunia 2006: Juara Indonesia Open, Juara Asian Games 2007: Juara Kejuaraan Asia, Juara SEA Games 2008: Juara Macau Open 2009: Juara US Open, Juara India Open 2010: Juara Canada Open, Juara Indonesia GP Gold, Juara French Open SS.

Putra pasangan Aris Haris dan Enok Dartilah ini adalah peraih medali emas untuk Indonesia pada Olimpiade Athena 2004 dengan mengalahkan Seung Mo Shon dari Korea Selatan di babak final. Pada 21 Agustus 2005, dia menjadi juara dunia dengan mengalahkan permain peringkat 1 dunia, Lin Dan di babak final, sehingga menjadi pemain tunggal putra pertama yang memegang gelar Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis dan Olimpiade pada saat yang sama. Selain itu, ia juga sedang memegang gelar juara tunggal putra Asian Games (2002, 2006). Ia tampil di Olimpiade Beijing 2008, namun langsung kalah di pertandingan pertamanya, melawan Wong Choong Hann di babak kedua.

Selain itu, dia juga telah enam kali menjuarai Indonesia Terbuka: 1999, 2000, 2002, 2003, 2004, dan 2006.
Pengalaman lainnya antara lain pada Piala Thomas (2000, 2002, 2004, 2006, dan 2008) serta Piala Sudirman (1999, 2001, 2003, dan 2005).

Cinta Sepertiga



Tahukah Kau Kekasih
Tentang cintaku padaMu
Tentang asa yang kurajut
Di atas doa-doa di ujung malam
Cintaku tak seperti lilin
Yang mudah leleh termakan api
Atau seperti mentari
Yang tenggelam
Ketika senja datang

Nikmat mencintaMu
Dikala mata kian menyipit
Saat tubuh merindu
Mimpi-mimpi tentang cita
Aku tetap bersamaMu
Bergelang butir-butir mutiara tasbih
Dan wajah bermandi air mata kelemahan hati
Suara yang memanggil-manggil lirih
Allahu Akbar, Allahu Akbar


Saptian Putri ©

Menuju Damai



Menerawang bayang bayang semu
Terpaku dalam lamuan sendu
Berbasuh kesedihan pilu
Seperti kehilangan separuh sukma
Menyesak di antara rusuk dada

Hujan pagi ini
Tlah membawamu pergi
Terkenang tawa berbingkai air mata
Selamat tinggal
Semoga Tuhan memberi  jalan terang

Nyontek (Lagi?)




Materi semester udah mau abis. Itu artinya, ujian sudah dekat! Wah, kalau denger kata “ujian”, yang kebayang pasti lembaran soal-soal, pengawas, dan... bikin contekan. Oopss! Di akhir-akhir semester gini kita klabakan belajar, ngafalin materi yang uda dikasi sama guru, atau sekedar memperdalam kisi-kisi soal. Di masa-masa ujian tempat bimbel atau privat kebanjiran order, buat mereka yang mungkin butuh tambahan arahan. Banyak juga dari murid yang manfaatin klinik pembelajaran di sekolah. Tapi buat yang suka belajar dengan suasana santai, kelompok belajar jadi pilihan jitu. Bisa dapet ilmu tapi sekalian having fun bareng temen-temen. Pokoknya, apa pun dilakukan demi dapetin nilai bagus di ujian. Nah, yang berikut ini mungkin adalah kebiasaan yang kurang bagus, yaitu ‘nyontek’. Ini jadi andalan berat buat kebanyakan pelajar yang mungkin kurang pede sama dirinya sendiri. Entah beneran nggak pede, males belajar, atau kepentok IQ? Hal inilah yang disebut krisis kepercayaan diri pelajar. Tapi nyontek memang sudah menjadi rutinitas sejak dulu dan menjamur di kalangan pelajar. Demam nyontek ini juga berlaku pada saat ujian nasional. Dewasa ini nyontek makin terorganisir. Jauh-jauh hari murid mempersiapkan contekan dan segala trik mengelabui pengawas. Tapi kalau nyontek buku, bikin ringkasan di kertas kecil terus disembunyiin di saku atau kaos kaki sih nggak jaman lagi. Perkembangan teknologi juga menyebabkan dampak negatif. Handphone yang hakikatnya adalah alat untuk berkomunikasi, di tangan mereka kini beralih fungsi. Mereka saling bertukar jawaban lewat SMS, bahkan ada pula yang sempat browsing di sela-sela mengerjakan soal. Tak hanya itu, murid-murid juga memiliki trik-trik untuk mengalihkan perhatian pengawas. Entah dengan kode-kode yang hanya bisa mereka baca, atau memberikan sambutan meriah pada pengawas ketika masuk ruang ujian, hingga membuat pengawas lengah. Ah, ironi, bukan?
Nyontek sebenarnya nggak berpengaruh banyak pada diri para murid. Coba lihat, mereka yang dengan giat belajar pasti bisa menghadapi ujian. Kalau kita prepare semua dari awal dengan belajar sungguh-sungguh, pasti kita bisa lebih siap ngerjain soal dan nggak ngandelin contekan. Menjaga hubungan baik dengan orang tua, teman maupun guru akan dapat membuat kita lebih terbuka pada diri sendiri serta orang lain. Berdiskusi atau konsultasi dengan orang yang kita anggap dekat dan dapat dipercaya mampu meningkatkan rasa kepercayaan diri kita. Nyontek, bukanlah pillihan yang tepat!


Saptian Putri
Wise Sharing

Dan Beginilah Rasanya..

Tika Yusuf, Lian Aprilia, Tio Andito..
Pasti udah pada familiar dong sama nama-nama ini? Yups, mereka adalah beberapa dari sekian orang-orang hebat di bidang broadcasting, khususnya di Jogja. Mereka juga jadi role model dan juga  mood booster aku. Gimana enggak, mereka ini jago banget kalo soal ngomong di depan banyak orang. Nggak sekedar omong doang lho!
Seperti yang kita tau, Tika Yusuf adalah seorang announcer Swaragama FM,  radio dg top rating via jogjastreamers.com, pembicara, MC, trainer, manajer. Wow! Sekarang ini lagi mengikuti  Indonesia Mengajar, salah satu program dedikasi pendidikan di pelosok Nusantara. Hmm.. soal sosial, nggak diraguin lagi kan? \m/
Lian Aprilia, aku suka banget sama suara imut kaka yang satu ini. Murah senyum, menyejukkan hati.. :)
Nah, kalo yang terakhir ini, setuju dong yaa kalo kita menyebutnya "Dimas Ganteng Nan Kece", Tio Andito. Dimas? Ya, penyiar yang satu ini memang punya seabreg prestasi, di luar kariernya sebagai announcer maupun presenter. Salah duanya  menjadi Dimas Sleman 2012 dan juga Runner Up 1 Dimas Diajeng DIY. Siapa sih yang ngga pengen punya pacar beginian? #sedikit ngarep >.<
Yeay, dan dari sekedar mengidolakan, akhirnya aku bisa selangkah mengikuti jejak mereka. Yah, meski masih sangat sederhana. Tapi seenggaknya, ini jadi batu loncatan untuk lebih maju ke depannya. Beberapa bulan kemarin, setelah resmi jadi DJ Bantul Radio 89.1 FM, aku jadi (sedikit lebih) tau, seluk beluk kepenyiaran radio. Semoga aku pun juga bisa seperti mereka, nggak cuma modal suara, tp juga attitude yang bisa jadi inspirasi buat orang lain. Buat kamu yang pengen dengerin siaranku, silakan pantengin channel 89.1 FM kamu yaa, tiap malem jam 7-9. Ato klik www.bantulradio.com buat streaming. 

Tika Yusuf

Tio Andito

Tio Andito & Lian Aprilia

IBU


Pagi-pagi sekali tubuhnya yang terlihat masih lelah itu telah dibawanya dalam kesibukan, rutinitas setiap hari. Walau umurnya bisa dikatakan tak  muda lagi namun tekadnya untuk selalu menunaikan tugasnya tak pernah mati. Seusai subuhan, ia menuju tungku, menata kayu-kayu untuk menanak nasi. Beberapa saat kemudian dapur mengepul, asap membubung keluar menembus celah atap rumah. Ia memang lebih sering memasak menggunakan kayu bakar. Ya, setidaknya tungku dibiarkan istirahat saat keperluan mendadak saja, seperti merebus air atau sekedar mengolah mie instan  karena saat itu ia akan memilih memanfaatkan kompor gas pembagian pemerintah, yang aku tahu benar tak jarang pula memanfaatkan kayu bakar karena tak mampu membeli gas, sekalipun kemasan hijau tapi bagiku dimasak dengan kayu bakar atau pun kompor gas sama sekali tak mempengaruhi rasa dalam makanan yang dibuat ibu, semuanya enak.
***
06.30 WIB. Setelah beres mempersiapkan sarapan, aku memang tak sering melihat secara langsung apa dan dimana kegiatan yang ia lakukan. Tapi sebelum meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu aku kerap mendapatinya sedang membersihkan halaman rumah yang memang cukup luas. Ia paling  risih  melihat kondisi lingkungan yang berantakan.
Wanita separuh baya itu cukup dikenal banyak  orang, terlebih warga desa. Ia bergabung dalam kepengurusan ibu-ibu desa yang sering mengadakan perkumpulan dengan para pengurus dari desa-desa se-kecamatan. Ada satu wanita yang selalu menemaninya dalam kegiatan itu, dan mereka sangat akrab, bahkan rumah kami berdekatan. Aku memanggilnya “budhe”, entah mengapa demikian aku tak tahu, seingatku aku juga tak memiliki hubugan saudara dekat dengannya. Namun  beitulah wanita yang kupanggil “ibu” itu mengajarkanku bagaimana memperlakukan orang yang  lebih tua atau pun yang lebih muda.
***
Setibanya aku dari tempat menimba ilmu, di rumah, wanita itu  juga yang menyambutku. Ditawarkannya padaku menu makan siang yang baru saja diangkatnya dari tungku pemanasan. Terkadang apa yang disodorkannya itu adalah menu yang sama seperti apa yang telah  aku makan untuk sarapan. Tapi jarang sekali aku mempermasalahkan akan hal itu. Beberapa waktu belakangan ini kegiatannya memang banyak dihabiskan di rumah karena tak diijinkan bekerja oleh orang yang begitu kami patuhi, ayah. Dan betapa pula Ibu menghormati suaminya itu. Ia tahu betul pekerjaannya tak akan membawa berkah tanpa ridho suami.
Menjelang melepas penat, ketika waktu tak pernah mampu menghalau malam, sesekali aku masih suka tidur bersama wanita yang sangat aku cintai itu. Mungkin orang lain menganggapnya aneh, bocah sebesar diriku ini berpeluk dengan ibunya, seperti anak kecil. Tapi ia sendiri tak keberatan, menganggapnya itu bentuk rasa sayangku terhadapnya. Dalam renungku menuju mimpi aku selalu membubuhkan doa keberkahan akan dirinya. Aku menyayangimu, Ibu!

Dedicated to ma beloved mom :)
SAPTIAN PUTRI ©

Pro-Kontra SNMPTN Undangan; Ajang Menaikkan Pamor Sekolah


Saat ini tersedia banyak jalur untuk bisa memasuki dunia perkuliahan. Yang sedang gencar diberitakan adalah adanya penerimaan calon mahasiswa baru melalui jalur undangan, yakni pendaftar adalah siswa yang memiliki prestasi akademik tinggi dan konsisten pada sekolah yang sama pada semester 3, 4 dan 5 dengan akreditasi sekolah sebagai berikut:
Akreditasi A: 50% terbaik dan konsisten di semester 3, 4, dan 5
Akreditasi B: 30% terbaik dan konsisten di semester 3, 4, dan 5
Akreditasi C: 15% terbaik dan konsisten di semester 3, 4, dan 5
Lainnya : 5% terbaik dan konsisten di semester 3, 4,dan 5
Adanya pendaftaran melalui jalur undangan ini tak urung membuat sekolah-sekolah berusaha agar murid-muridnya lolos seleksi jalur ini. Yang sangat disayangkan adalah bahwa beberapa sekolah melakukan tindakan tak terpuji yaitu menaikkan nilai murid-muridnya agar bisa masuk kriteria jalur undangan. Tindakan mengatrol nilai ini tak hanya akan merugikan pihak universitas penerima calon mahasiswa dari sekolah tersebut. Selain ketidaksinkronan antara nilai dan kemampuan calon mahasiswa, dengan diterimanya murid-murid tersebut akan menurunkan daya saing universitas itu sendiri. Tentunya hal ini juga akan berpengaruh pada akreditasi program studi tertentu.
Bagi sekolah, semakin banyak murid diterima di Perguruan Tinggi Negeri akan meningkatkan rasa ketertarikan masyarakat untuk mendaftarkan anaknya di sekolah tersebut. Terlebih jalur undangan diperuntukkan bagi murid berprestasi, akan membuat gengsi sekolah semakin tinggi.
Nilai raport pada semester 3, 4 dan 5 menjadi syarat utama untuk bisa mengikuti jalur undangan. Tentunya sekolah berlomba memiliki nilai sesuai syarat tersebut, bagaimana caranya akan ditempuh. Dengan memaksakan mengatrol nilai murid-muridnya, sebenarnya akan berdampak buruk tak hanya pada pihak universitas seperti yang telah diuraikan sebelumnya, tetapi juga bagi pihak sekolah maupun murid itu sendiri. Pihak universitas lama-lama akan kehilangan kepercayaan pada sekolah, sehingga bisa saja universitas akan mencabut kuota pendaftaran jalur undangan bagi sekolah tertentu. Begitu pula dengan murid yang tak akan bisa berkembang karena merasa telah aman untuk mendaftar jalur undangan.
Tak mudah mengetahui sekolah mana yang jujur dalam memberikan nilai pada murid-muridnya. Bahkan sulit menentukan antara sekolah yang benar-benar memiliki kredibilitas baik. Sekolah dengan grade tinggi merasa dirugikan karena sekolah lain dengan mudah mendapat predikat bagus, tetapi predikat tersebut didapat dengan cara yang salah.
Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Followers

...